Minggu, 06 Januari 2013

HAMA PENYAKIT UTAMA JAGUNG DAN PENGENDALIANNYA SECARA BIOLOGIS


HAMA  PENYAKIT UTAMA JAGUNG DAN PENGENDALIANNYA SECARA BIOLOGIS
Surtikanti
Balai Penelitian Tanaman Serealia
Jln. DR. Ratulangi 274 Maros, 90514


Rendahnya hasil jagung disebabkan oleh banyak factor, diantaranya faktor abiotis (iklim, jenis tanah dan lahan) dan faktor biotis (varietas, hama, penyakit dan gulma), serta faktor sosial ekonomi.  
Hama dan  penyakit merupakan kendala dalam peningkatan produksi jagung. Hama utama pada tanaman jagunga adalah hama penggerek batang Ostrinia furnacalis Gueene dan penggerek tongkol Helicoverpa armigera Hubn.
Penggerek batang O. furnacalis hadir di pertanaman  pada umur tanaman antara 15 – 42 hari setelah tanam. Telur diletakkan ngengat betina pada tulang daun bagian bawah dari tiga daun teratas.Seekor ngengat betina mampu bertelur 300-500 butir dalam bentuk berkelompok, satu kelompok bervariasi jumlahnya.Setelah 6-9 hari baru menetas, ulat-ulat yang baru menetas disebut larva instar I masih bergerombol, kemudian berpencaran menyebar menuju bunga jantan, dan ada pula yang  langsung menggerek tulang daun yang telah terbuka.Larva-larva instarII dan III menuju batang dan akan  menggerek batang membentuk lorong menuju ke atas, setelah menuju bagian atas, larva akan turun kebuku bagian bawah untuk berubah menjadi pupa di dalam batang. Hal inilah yang dapat menyebabkan batang tanaman patah, kemudian mati karena translokasi hara dari akar ke daun terhambat. Siklus hidup dari penggerek batang berkisar 22-45 hari (Kalshoven,1981).Kehilangan hasil akibat serangan  penggerek batang dapat mencapai 80% (Yasin,2008).
            Pengendalian penggerek batang dapat dilakukan dengan cara pelepasan parasitoid Trichogramma spp. Hasil survey diketahui bahwa tingkat parasitasi Trichogramma spp.dapat mencapai 81% di Takalar pada varietas Bisma (Nurnina,2003).     
            Penggerek tongkol Helicoverpa armigera mulai muncul di pertanaman pada  fase generatif 43-70 hari setelah tanam. Ngengat H. armigera aktif pada malam hari,ngengat betina meletakkan telurnya secara tunggal pada umur tanaman 45-56 hari setelah tanam bersamaan dengan munculnya rambut tongkol, dan mampu bertelur 600-1000 butir. Telur baru menetas setelah 4-7 hari.Larva ini selain menyerang tongkol juga menyerang pucuk dan menyerang malai sehingga bunga jantan tidak terbentuk yang mengakibatkan hasil biji berkurang. Stadia pupa ada di dalam tongkol, siklus hidupnya berkisar 36-45 hari (Kalshoven,1981). Kehilangan hasil yang disebabkan serangan H. armigera dapat mencapai 10% (Yasin,2008).  
            Pengendalian penggerek tongkol dapat dilakukan dengan cara pelepasan parasitoid Trichogramma spp.Hasil uji coba di laboratorium didapatkan bahwa T. evanescens dapat memarasit telur penggerek tongkol sebesar 92,3% (Pabbage et al.,2001).Untuk di lapang belum ada data.
            Penyakit bulai merupakan penyakit utama tanaman jagung yang  disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora sp.Cendawan ini aktif menginfeksi pada suhu udara 27oC keatas dengan Rh yang tinggi.Gejala yang ditimbulkan adalah (1) pada tanaman yang berumur 2-3 minggu, daun kecil dan runcing, kaku , pertumbuhan batang terhambat, warna daun kekuningan, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan berwarna putih; (2) pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun terlihat berklorotik, dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk;(3) pada tanaman dewasa terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua (Agrios,1997;Lucas,1998).
Konidium yang masih muda berbentuk bulat, dan yang sudah masak dapat menjadi jorong, dengan ukuran 12 – 19 x 10 – 23 µm dengan rata-rata 19,2 x 17,0 µm untuk P. maydis  sedangkan untuk P. philippinensis ukuran konidiofornya 260 – 580 µm, konidiumnya berukuran 14 – 55 x 8 – 20 µm dengan rata-rata 33,0 x 13,3 µm.  Adanya benang-benang cendawan dalam ruang antarselnya maka daun-daun tampak kaku, agak menutup, dan lebih tegak (Semangun, 2004).
Siklus hidup, cendawan ini  tidak  dapat bertahan hidup secara saprofitik, tidak terdapat tanda-tanda bahwa cendawan bertahan dalam tanah.Pertanaman dibekas pertanaman yang terserang berat oleh bulai dapat sehat sama sekali. Oleh karena itu cendawan terus bertahan dari musim ke musim pada tanaman hidup (Semangun, 2004). Kehilangan hasil akibat serangan bulai pada tanaman jagung dapat mencapai 30%, bahkan dapat mencapai kerusakan tanaman 100% (Yasin,2008).
            Pengendalian secara biologis belum diketahui.Komponen pengendalian penyakit bulai pada jagung ada lima yaitu( 1) perlakuan fungisida metalaksil pada benih jagung; (2)menanam varietas jagung tahan penyakit bulai; (3). eradikasi tanaman jagung terserang penyakit bulai;(4 ). penanaman jagung secara serempak dan(5). periode bebas tanaman jagung (Wakman ,Talanca dan Surtikanti , 2008).

DAFTAR PUSTAKA
Agrios,G.N. 1997. Plant Pathology. Fourth Edition.Academic Press.San Diego,California..
Kalshoven, L.G.E. 1981. Pest of in Indonesia. Resived and translated by P.A. van der Laan, University of Amsterdam. PT Ichtiar Baru, van Hoeve, Jakarta. 701 hal.
Lucas,J.A. 1998. Plant Pathology and Pathogens. 3rd Edition. Blackwell Science.
Nurnina,N. 2003. Tingkat parasitasi Trichogramma evanescens terhadap telur penggerek batang jagung. Berita Puslitbangtan No.27,Oktober 2003. Hal.5-6.
Pabbage,MS., N.Nonci dan D.Baco. 2001. Daya parasitasi beberapa jenis Trichogrammatidae terhadap telur penggerek tongkol jagung Helicoverpa armigera. Berita Puslitbangtan no.22.,
Semangun,H. 2004. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press. 449 hal. 
Wasmo,W., A.H.Talanca and Surtikanti, 2008. Downy Mildew Disease Outbreak  in West Kalimantan Province    , Indonesia in 2007. 4 pp. 
Yasin,M. 2008. Major Pest and Disease. Technology Innovation Supporting Maize Production. Indonesian Center for Food Crops Research and Development, Indonesian Cereals Research Institute.pp.17-18.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar